Los Angeles (beritabasket.com) – Los Angeles Lakers sempat membuat gebrakan besar pada musim lalu dengan mendatangkan Luka Dončić lewat skema pertukaran pemain. Namun, keputusan melepas Anthony Davis dalam kesepakatan tersebut membuat manajemen Lakers menyadari adanya lubang besar di sektor center yang harus segera ditutup.
Tak butuh waktu lama, Lakers kemudian mencapai kesepakatan dengan Charlotte Hornets untuk mendatangkan Mark Williams. Dalam rencana awal, Lakers bersedia melepas Dalton Knecht, Cam Reddish, serta satu hak pilih draft demi mendapatkan jasa center muda tersebut.
Namun, rencana itu berakhir mengejutkan. Pertukaran yang hampir rampung tersebut akhirnya dibatalkan setelah Mark Williams dinyatakan gagal dalam pemeriksaan medis. Riwayat cedera panjang yang dimiliki Williams sejak awal kariernya di NBA menjadi perhatian serius tim medis Lakers, meskipun sang pemain masih aktif bermain sebelum kesepakatan terjadi.
Keputusan itu ternyata meninggalkan luka mendalam bagi Williams. Kini berseragam Phoenix Suns, pemain berpostur tinggi tersebut akhirnya buka suara mengenai kegagalan transfer ke Lakers dalam podcast The Young Man and the Three.
Williams mengaku tidak menyangka pertukaran itu dibatalkan secara sepihak. Ia bahkan baru saja tampil dalam pertandingan melawan Milwaukee Bucks saat menerima kabar bahwa dirinya akan ditukar.
“Saya benar-benar tidak percaya. Saya baru saja bermain dan tiba-tiba mereka bilang pemeriksaan fisik saya gagal. Saya ada di sana, kondisi saya baik-baik saja, tapi mereka bilang semuanya sudah selesai dan tidak bisa diubah,” ungkap Williams.
Kekecewaan itu semakin terasa karena Williams merasa siap memulai babak baru dalam kariernya bersama Lakers. Ia menyebut Charlotte memang sudah berniat melepasnya, dan kepindahan ke Los Angeles dianggap sebagai peluang besar untuk berkembang, terlebih dengan target playoff.
Situasi menjadi semakin emosional ketika ia harus menghadapi Lakers tak lama setelah jeda All-Star. Williams mengaku pertandingan tersebut menjadi ajang pembuktian dirinya.
“Saat melawan mereka, saya cuma ingin menunjukkan kemampuan saya. Jujur saja, itu murni soal pembuktian,” ujarnya.
Williams juga tidak menampik bahwa emosinya masih tersisa hingga kini. Bahkan setelah Lakers tersingkir dari persaingan playoff, ia sempat mengekspresikan perasaannya melalui media sosial.
“Saya sebenarnya senang bisa bergabung dengan mereka. Saya merasa bisa membantu. Tapi setelah semua yang terjadi, perasaan kesal itu masih ada,” tutup Williams dengan jujur.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik transaksi besar NBA, ada sisi emosional pemain yang kerap luput dari sorotan, terutama ketika sebuah kesepakatan gagal di detik-detik terakhir. –ANT

